Logo

Desa Wisata Cokro

Profil Desa Wisata

Mengenal lebih dekat Desa Wisata Cokro

Deskripsi Desa

Desa Cokro merupakan salah satu desa di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kecamatan dan 15 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Klaten. Dengan luas wilayah sekitar 81,27 hektare dan berada pada ketinggian 0–180 mdpl, Desa Cokro memiliki iklim tropis serta kondisi tanah yang subur sehingga sangat mendukung sektor pertanian. Sekitar 78% wilayah desa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sementara sebagian lainnya digunakan untuk permukiman, peternakan, dan fasilitas umum. Sebagian besar masyarakat bermata pencaharian di bidang pertanian dan peternakan yang didukung oleh ketersediaan air yang melimpah. Potensi alam tersebut juga menjadikan Desa Cokro sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Klaten, dengan daya tarik utama berupa Umbul OMAC Cokro, mata air alami yang terkenal akan kejernihan dan debit airnya yang besar. Selain wisata alam, Desa Cokro juga memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang menjadi potensi pengembangan wisata edukasi dan budaya, sehingga menawarkan pengalaman wisata yang memadukan keindahan alam, tradisi, serta kehidupan masyarakat pedesaan.

Sejarah Desa

Desa Cokro merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Desa Cokro termasuk desa tua yang berada di wilayah utara Kabupaten Klaten. Tempo dulu, Desa Cokro merupakan satu wilayah kesatuan masyarakat yang dimulai dengan nama Kademangan dan dipimpin oleh seorang tua adat yang biasa disebut Demang.

Nama Cokro diambil dari kata Cakra, yaitu pusaka Sang Krisna dalam tokoh pewayangan Jawa. Penamaannya berdasar pada penuturan pini sepuh atau kademangan dan berkaitan dengan adanya sumber mata air yang dianggap sebagai sumber panguripan. Wilayah ini memiliki sumber mata air yang dinamai Umbul Ingas, yang kini menjadi objek wisata desa sekaligus menjadi sumber air masyarakat Cokro. Umbul Ingas dinamai demikian karena merujuk pada adanya pohon-pohon ingas di sekitar sumber mata air tersebut. Masyarakat percaya bahwa pohon ingas berperan dalam menjaga kesucian dan kejernihan mata air.

Sumber mata air Umbul Ingas diperkirakan telah ada sejak abad ke-9. Konon, pada masa Kerajaan Surakarta mata air ini digunakan sebagai tempat Jamasan (upacara pembersihan pusaka) Raja-Raja Surakarta. Hal ini diperkuat dengan adanya peninggalan berupa batu yang dipercaya sebagai tempat duduk sang raja dan masih ada hingga sekarang. Selain itu, Umbul Ingas juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan tradisi masyarakat Jawa, seperti Padusan yang dilakukan menjelang bulan Ramadan dan Kungkum (berendam) sebagai bentuk ritual masyarakat Jawa.

Pemberian nama Umbul Cokro berasal dari nama desa tempat umbul tersebut berada. Umbul Cokro berkembang pesat pada masa pemerintahan Paku Buwono IX Kasunanan Surakarta pada abad ke-19. Kala itu, sumber mata air ini dimanfaatkan sebagai lokasi peristirahatan dan pemandian bagi bangsawan serta spiritualis keraton. Seiring berjalannya waktu, Umbul Ingas berkembang menjadi salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Klaten serta menjadi sumber air minum dan sumber kehidupan bagi masyarakat Desa Cokro.

Desa Cokro berdiri sekitar tahun 1944 di bawah pimpinan Lurah Harto Darmanto. Sebagian besar tata permukiman desa merupakan peninggalan masa lampau yang terdiri dari lima pedukuhan, dengan sumber mata air yang melimpah. Sekitar 75% wilayah desa merupakan lahan pertanian yang subur, sehingga sangat berpotensi untuk pengembangan sektor pertanian dan pariwisata.  Setelah masa kepemimpinan Harto Darmanto berakhir pada tahun 1988, kepemimpinan Desa Cokro dilanjutkan oleh Bapak Sukirno (1989–2007), Bapak Sutiyanto (2007–2019), dan sejak tahun 2019 hingga sekarang dipimpin oleh Bapak Heru Budi Santosa, S.E.