Logo

Desa Wisata Cokro

Tradisi Bersih Dusun

Bersih Dusun merupakan tradisi tahunan yang masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Cokro sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa agar seluruh warga diberikan keselamatan, keberkahan, dan dijauhkan dari berbagai musibah. Tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan lingkungan secara fisik, tetapi juga sebagai upaya membersihkan diri dari sifat-sifat buruk, seperti iri hati, dengki, sombong, congkak, serta perbuatan yang bertentangan dengan norma agama, hukum negara, maupun adat istiadat.

Bagi masyarakat Desa Cokro, pembangunan desa tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan mental dan spiritual. Oleh karena itu, pelaksanaan Bersih Dusun menjadi salah satu sarana untuk memperkuat nilai-nilai religius, kebersamaan, dan keharmonisan sosial, sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang aman, tertib, dan sejahtera.

Rangkaian kegiatan Bersih Dusun biasanya meliputi doa bersama, kenduri, kegiatan sosial kemasyarakatan, serta diakhiri dengan Pagelaran Ringgit Purwo (Wayang Kulit) yang berlangsung semalam suntuk sebagai puncak acara. Selain menjadi hiburan rakyat, pagelaran wayang kulit juga menjadi media pelestarian budaya Jawa sekaligus sarana penyampaian nilai-nilai moral dan filosofi kehidupan kepada masyarakat.

Pelaksanaan Bersih Dusun di Desa Cokro dilakukan secara bergiliran oleh masing-masing dukuh sesuai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu:

Dukuh Ngalas : Bulan Safar.

Dukuh Sagi : Bulan Sura.

Dukuh Paten : Bulan Syawal.

Dukuh Gebang dan Dukuh Cokro : Bulan Besar (Dzulhijjah).

Melalui tradisi Bersih Dusun, masyarakat Desa Cokro terus menjaga warisan budaya leluhur sekaligus mempererat semangat gotong royong, persatuan, dan kebersamaan. Tradisi ini diharapkan mampu mewujudkan kehidupan masyarakat yang "Toto Titi Tentrem Kerto Raharjo", yaitu masyarakat yang tertib, tenteram, adil, makmur, dan sejahtera berdasarkan nilai-nilai Pancasila serta Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Kembali