Logo

Desa Wisata Cokro

Gejog Lesung

Gejog Lesung merupakan kesenian tradisional khas Jawa yang berkembang di wilayah Yogyakarta, Klaten, dan Surakarta. Kesenian ini lahir dari kehidupan masyarakat agraris dan dimainkan menggunakan alat-alat yang dahulu digunakan dalam aktivitas sehari-hari, yaitu alu dan lesung sebagai alat penumbuk padi. Awalnya, bunyi yang dihasilkan saat masyarakat menumbuk padi dilakukan secara spontan, kemudian berkembang menjadi irama yang teratur hingga menjadi sebuah pertunjukan seni tradisional.

Sesuai namanya yang berasal dari bahasa Jawa:

  • Gejog berarti memukul atau menumbuk.
  • Lesung merupakan alat tradisional yang digunakan untuk menumbuk padi.

Properti yang digunakan dalam Gejog Lesung, yaitu:

  • Lesung, berupa wadah kayu panjang yang memiliki cekungan di bagian tengah sebagai tempat menumbuk padi.
  • Alu, yaitu alat penumbuk yang terbuat dari batang kayu panjang.

Dalam pertunjukannya, beberapa pemain memukul bagian lesung dengan pola ritme yang berbeda sehingga menghasilkan harmoni dan irama yang khas. Tidak jarang pertunjukan juga dipadukan dengan tembang Jawa, sinden, maupun tarian tradisional sehingga menciptakan pertunjukan yang lebih menarik.

Gejog Lesung memiliki beberapa nilai dan fungsi budaya, antara lain:

  • Melestarikan warisan budaya masyarakat agraris Jawa.
  • Menjadi simbol gotong royong, kekompakan, dan kebersamaan karena dimainkan secara berkelompok.
  • Menjadi ungkapan rasa syukur, khususnya setelah masa panen padi.
  • Menjadi media hiburan masyarakat pada berbagai acara adat dan perayaan desa.
  • Menjadi atraksi budaya dalam kegiatan desa wisata, penyambutan tamu, festival budaya, tradisi Nyadran, dan kegiatan kebudayaan lainnya.

Saat ini, Gejog Lesung tidak hanya dipandang sebagai kesenian tradisional, tetapi juga menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Jawa yang memperlihatkan bagaimana alat pertanian sederhana dapat berkembang menjadi pertunjukan seni yang sarat akan nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal.

Kembali